Menyongsong Pemilihan Raja Negeri Laha

By: Saidna Zulfiqar

Setelah beberapa tahun terakhir ini dilalaui dengan kevakuman pemimpin/seorang Raja yang difinitif di negeri Laha, maka dengan dilantiknya para Saniri negeri diharapkan mereka mampu bekerja secara efektif dalam membantu pemerintah membangun negeri, salah satu diantara agenda utama saat ini bagi para Saniri adalah merencanakan proses penjaringan, pencalonan dan pemilihan Raja agar aktifitas pemerintahan negeri dapat berjalan dengan baik.

Untuk mencari seorang pemimpin yang ideal, sebenarnya masih banyak membutuhkan penafsiran-penafsiran. Pertanyaan yang muncul diantaranya, ideal itu standarnya apa?, menurut siapa? dan apa konsepnya?. Begitu banyak teori-teori tentang kepemimpinan dan keinginan masyarakat yang berbeda-beda dan sangat bervariatif mungkin semakin membuat kita bingung dalam mencari dan memilih pemimpin. Namun karena Negeri Laha adalah salah Negeri adat yang ada di Maluku yang notabene Muslim, maka konteks keadatan/kebangsaan dan keagamaan patut diperhitungkan.

Mengacu pada Peraturan daerah (Perda) Kota Ambon Nomor 3 Tahun 2008 maka yang akan dipercayakan sebagai Raja adalah mereka yang masuk dalam mata rumah (Soa) tertentu, sebagaimana ditentukan di Negeri ini secara turun temurun.

Agama Islam memandang penting terhadap sebuah kepemimpinan, karena pada hakikatnya kita semua adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya atas kepemimpinan itu. Ada beberapa kriteria Pemimpin yang disyaratkan dalam pandangan agama, yaitu:

  1. Amanah (terpercaya). Seoarang pemimpin harus mendapat kepercayaan masyarakat, karena sebuah masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera akan terbentuk manakala pemimpinnya mendapat kepercayaan (legitimasi) dari masyarakat.
  2. Fatanah (cerdas). Persyaratan menjadi pemimpin adalah memiliki kemampuan intelegen (IQ) yang standar, sehingga mampu menganalisa dan mengatasi masalah yang ada di wilayahnya.
  3. Tabligh (komunikatif). Pemimpin harus mampu berkomunikasi dengan masyarakat dan pimpinan yang ada di atasnya, sehingga akses informasi bisa diterima oleh semua warga.
  4. Shidiq (jujur). Kejujuran seorang pemimpin merupakan bagian dari kesuksesan dalam kepemimpinannya, karenan kejujuran saat ini merupakan sesuatu yang sulit untuk dibuktikan dan sangat langka dijumpai.

Al-Mawardi rahimahullah dalam kitab al-Ahkâm ash-Shulthaniyah menyebutkan syarat-syarat seorang pemimpin, di antaranya: Pertama, adil dengan ketentuan-ketentuannya. Kedua, ilmu yang bisa mengantar kepada ijtihad dalam menetapkan permasalahan kontemporer dan hukum-hukum. Ketiga, sehat jasmani, berupa pendengaran, penglihatan dan lisan, agar ia dapat langsung menangani tugas kepemimpinan. Keempat, normal (tidak cacat), yang tidak menghalanginya untuk bergerak dan bereaksi. Kelima, bijak, yang bisa digunakan untuk mengurus rakyat dan mengatur kepentingan negara. Keenam, keberanian, yang bisa digunakan untuk melindungi wilayah dan memerangi musuh.

Ibnul-Muqaffa’ dalam kitab al-Adabul-Kabir wa Adabush-Shaghir menyebutkan pilar-pilar penting yang harus diketahui seorang pemimpin: “Tanggung jawab kepemimpinan merupakan sebuah bala` yang besar. Seorang pemimpin harus memiliki empat kriteria yang merupakan pilar dan rukun kepemimpinan. Di atas keempat kriteria inilah sebuah kepemimpinan akan tegak, (yaitu): tepat dalam memilih, keberanian dalam bertindak, pengawasan yang ketat, dan keberanian dalam menjalankan hukum”.

Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada al-Mughirah ketika mengangkatnya menjadi gubernur Kufah: “Hai Mughirah, hendaklah orang-orang baik merasa aman denganmu dan orang-orang jahat merasa takut terhadapmu”.

Dalam sebuah kata-kata hikmah disebutkan: Seburuk-buruk harta, ialah yang tidak diinfakkan. Seburuk-buruk teman, ialah yang lari ketika dibutuhkan. Seburuk-buruk pemimpin, ialah pemimpin yang membuat orang-orang baik takut. Seburuk-buruk negeri, ialah negeri yang tidak ada kemakmuran dan keamanan. Sebaik-baik pemimpin, ialah pemimpin yang seperti burung elang yang dikelilingi bangkai, bukan pemimpin yang seperti bangkai yang dikelilingi oleh burung elang. Oleh karena itu dikatakan, pemimpin yang ditakuti oleh rakyat lebih baik daripada pemimpin yang takut kepada rakyat.

Kedua konteks ini (keadatan dan keagamaan) patut dijadikan pijakan utama dalam memilih calon Raja di Negeri Laha. Namun tidaklah manusia itu penuh dengan kesempurnaan sehingga mustahil untuk mendapatkan seorang pemimpin yang benar-benar ideal yang memaksa kita untuk menanggalkan idealis demi kemaslahatan ummat.

Ada kriteria yang mungkin patut ditambahkan dan diutamakan yaitu “the needy” atau kebutuhan masyarakat dan negeri saat ini. Begitu banyak permasalahan yang terjadi beberapa tahun terakhir ini di negeri Laha yang melatarbelakangi munculnya criteria ‘kebutuhan’ masyarakat dan negeri terhadap seorang pemimpin yang mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan negeri (the leader solver). Dengan kata lain, Negeri Laha saat ini membutuhkan seorang figur Raja yang memiliki keberanian, yang bisa digunakan untuk melindungi wilayah dan memerangi musuh. Fatanah (cerdas) yang memiliki kemampuan intelegen (IQ) yang standar, sehingga mampu menganalisa dan mengatasi masalah yang ada di wilayahnya. dan Tabligh (komunikatif) yang mampu berkomunikasi dengan masyarakat dan pimpinan yang ada di atasnya, sehingga akses informasi bisa diterima oleh semua warga.

Jika yang kita butuhkan adalah ‘Linggis’ maka berikanlah Linggis, bukan ‘Paku’, jika yang kita butuhkan adalah makanan maka berikanlah makanan, bukan durian, meskipun durian juga termasuk makanan. Berdasarkan atas prinsip kebutuhan maka apa yang menjadi momok masyarakat dan negeri saat ini akan terpenuhi dan terselesaikan.

2 thoughts on “Menyongsong Pemilihan Raja Negeri Laha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s