Kemiskinan di Maluku

S. Syariful Azhar SE

Berbicara mengenai angka kemiskinan tentunya sangat memprihatinkan, dimana dari saat ke saat, masalah tersebut semakin runyem dan belum nampak titik terangnya meskipun telah banyak cara yang diupayakan oleh pemerintah Maluku.

Dari media lokal dalam beberapa tahun terakhir mengikuti history arah perkembangan grafik kemiskinan di Maluku. Angkanya bergerak hotu mulai tahun 2004 dari 49% menuju 51,19%. Dalam rapat koordinasi Program Pemberdayaan Masyarakat pertengahan September 2005 terkuak angka kemiskinan Maluku 59,15%. Dari Seminar Membangun Komitmen dalam Rangka Percepatan Pembangunan Kesejahteraan Rakyat yang dilaksanakan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Maluku di Ambon, 28 Juli 2006, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Maluku Hanni Ohorella menyebutkan angka kemiskinan di Maluku mencapai 61 %. Angka tersebut sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku saat itu.

Di harian Kompas (15/2/2007), Gubernur Maluku berbicara tentang angka kemiskinan di Maluku sebesar 59,15 % dan program pengentasannya disiapkan dana sebesar Rp 164 milyar. Sementara itu di harian yang sama seminggu sebelumnya, Kompas (7/2/2007), diberitakan bahwa Tammat R Talaohu, Manajer Penelitian dan Pengembangan Lingkar Studi untuk Demokrasi Lokal (Indec), Selasa (6/2), mengatakan, jumlah penduduk miskin di Maluku pada tahun 2004 tercatat 40,6 persen (518.462 jiwa). Pada tahun 2005, jumlah penduduk miskin itu meningkat menjadi 59,6 persen dan pada tahun 2006 menjadi 61 persen (793.000 jiwa).

Jika masalah ini dibiarkan berlarut, bukannya akan mendekati titik terangnya malah semakin kabur. Karena kurang memperhatikan akar dari kemiskinan malah memperpanjang ekor kemiskinan dengan memanjakan dana, dimana yang merasa miskin semakin manja dengan kemiskinan, dan yang tidak, malah mengaku-ngaku miskin.

Pemerintah harusnya kembali melihat, siapa saja, atau kriteria kemiskinan itu apa?, jika merujuk pada bahasa Indonesia tentu kata fakir miskin adalah suatu kata tanpa perbedaan, namun jika dikembalikan pada kata asalnya yaitu bahasa Arab, maka akan dijumpai bahwa kata fakir dan miskin adalah dua suku kata yang berbeda, sering kita dapati dan bacakan dalam Al-Quran yaitu kata Fuqaraa wal asaakin; Fakir dan Miskin. Kedua kata ini dipisahkan oleh kata “Dan” yang menunjukkan adanya perbedaan antara keduanya.

Fakir adalah orang yang hidup dalam keadaan pas-pasan, sementara Miskin adalah benar-benar orang yang tidak mampu samasekali dalam memenuhi kehidupan sehari-harinya. Jika dilihat dari realita dari berbagai kejadian yang ada di Maluku khususnya di Ambon, seperti kenaikan harga dan kelangkaan minyak tanah dengan harga yang cukup mahal, maka jelas dan tidak ragu untuk dikatakan bahwa di Ambon tidaklah ada orang Miskin, yang ada hanyalah Fakir dan anak yatim piatu (dalam naungan beberapa panti).

Di saat langkanya minyak tanah dengan harga yang cukup mahal, namun masyarakat masih banyak yang antre membeli berliter-liter. itu adalah keanehan yang dipertanyakan. Mengapa masyarakat tidak menggunakan kayu bakar saja sebagai bahan pengganti minyak untuk sementara?.umah pengungsi kini malah lebih mewa dan lux dibanding rumah yang lain di sekitarnya, dimana di rumah pengungsi malah memiliki dari Tape,Vcd, Dvd player, komputer, Hp yang harga jutaan dan lain sebagainya. Menunjukkan bahwa masyarakat Ambon adalah orang kaya, dan data statistik yang ada harus ditinjau kembali kebenarannya.

Masyarakat Maluku tergolong masyarakat yang berpenyakit Heodanisme yang mengagung-agungkan merek sejak dahulu, yang dibeli bukanlah mutu melainkan mereknya. sehingga mustahil jika mendapati angka kemiskinan di Maluku setinggi itu.

Kiranya sebagai masukan buat pemerintah Maluku dan Pusat, agar kembali merevisi kriteria kemiskinan dengan melihat langsung tanpa mendengar dan menunggu laporan dari camat dan sebagainya, agar terhindar dari penggelapan bantuan dana, ataupun data-data palsu kemiskinan. Ataupun bantuan dana tersebut dialihkan untuk membuka lapangan pekerjaan dan subsidi terhadap harga sembako yang kian melunjak harganya, bukan memanjakan dengan materi sehingga banyak yang bukan miskin pun mengaku miskin. Lihatlah di beberapa negara di Eropa atau di Afrika seperti Mesir, dimana harga sembako tidak pernah terusik dan berubah, dari zaman ke zaman tidak ada perubahan, karena pemerintahnya tanggap bahwa masalah perut adalah masalah yang sangat rawan. Kiranya hal demikian perlu dan patut ditauladani.

2 thoughts on “Kemiskinan di Maluku

  1. Maluku belum dilihat oleh masyarakat Indonesia sebagai wilayah yang memiliki tempat wisata indah yang dapat dijadikan objek liburan.
    Himbauan bagi pemerintah Maluku agar memperhatikan tempat-tempat seperti pantai untuk dioptimalkan sebagai objek wisata atau masih banyak lagi tempat yang indah lainnya. Ini juga bisa menjadi pemasukan dana bagi pemerintah Maluku. Seperti Bali, agar Maluku juga dilirik bukan hanya oleh masyarakat Indonesia tapi bangsa asing.

  2. yup kita ga bisa bilang kalau maluku itu miskin, cause if we directly condition of people at there rich or “poor” almost of them are hedonis people. I think actualy people at there are can fulfill they primary needed. apa yang dibutuhkan disana hanya perubahan mindset/ arti dari hidup, itu saja. karena jika kita punya sepiring nasi dan segelas air untuk dimakan dan diminum hari ini kita sudah menjadi orang yang paling kaya bukan??
    Saya sangat sedih jika mengingat bagaimana kehidupan disana, bukan dari sisi materil but from akhlak side. especially for child generation. when i leaved ambon, i’ve unfinished obigation for child at my comunity. yah i’m still hope can back and live at there

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s