Benteng Kota Laha

benteng kota lahaCerita rakyat adalah sejarah yang turun temurun melalui bibir satu generasi ke generasi berikutnya. hal yang maklumat, bahwa penyampaian dari seorang ke orang lain bisa saja dilebih-lebihkan atau ada yang dikurangi, belum menjamin keutuhan cerita dan berita. Kebenarannya bukanlah absolut namun setidaknya mengandung kebenaran.

Menurut cerita para tetua yang bersumber dari orang tua mereka, melalui suatu tanya jawab, mereka bercerita, bahwa Benteng Kota Laha sebenarnya berada di Laha Suang atau Port of Laha, Sementara Benteng Kota Laha yang ada saat ini adalah benteng Kota Laha II yang dibangun setelah benteng Kota Laha yang berada di Laha Suang itu hancur akibat peperangan.

Dan untuk mendukung argumen, mereka menunjukkan sisa-sisa pondasi yang tersisa, yang konon katanya sebelum masa Kolonialis Jepang, benteng tersebut masih berdiri tegak dan berantakan, kemudian dengan pengeboman yang membabi buta akhirnya tembok-tembok tersebut hancur berkeping-keping, tinggallah sisa-sisa pondasinya saja yang ada hingga kini dan beberapa Pelbok untuk melindungi benteng tersebut yang masih tetap utuh.

laha suang

Di Laha Suang yang kini menjadi Port of Laha masih dijumpai sisa-sisa Pondasi, yang kemudian di daerah in, Oleh Dr Koohara yang berkebangsaan Jepang, membangun dermaga pelabuhan kapal ikan Jepang yang pertama kali ingin membrondong hasil laut Maluku selain rempah-rempah. Namun tak lama, ia meninggal dunia dan jasadnya dibakar di atas bukit Sakula. Sebagian abunya dikembalikan ke keluarganya dan sebagian lagi di simpan di bukit sakula. Hingga saat ini masih terlihat jelas bangunan hitam di atas bukit sebelum memasuki Airport Pattimura.

port laha

Pada tahun 1962, dermaga ini direhab oleh Hawai Draging Fomery dari Amerika dan dibantu oleh pekerja yang berasal dari Philipina untuk mengangkut Materiel berupa Black Stone yang berada di Gunung Sakula untuk pembangunan Dermaga Yosudarso Ambon.

port laha

Benteng kota Laha adalah bangunan yang paling keramat bagi Portugis, dan telah dimaklumi bahwa Kejayaan Portugis di Ambon tak berlangsung lama. Beberapa tahun kemudian, Belanda dengan niat menguasai perdagangan rempah-rempah menyerbu masuk. Lebih dari 40 benteng hancur berantakan menjadi saksi pertempuran Belanda-Portugis. Mungkin benteng yang dulunya berdiri di Laha Suang adalah salah satu dari 40 benteng yang hancur?

Dari catatan sejarah yang ada, disebutkan Casper de Melo, komandan pasukan Portugis (capitao) menyerah kepada Belanda dibawah komando Steven der Haghen, 23 Februari 1602. Benteng ini juga sempat jatuh ke dalam kekuasaan Inggris (East India Company) antara tahun 1794-1816. Namun berhasil direbut kembali oleh Belanda. Dari catatan sejarah, benteng ini sempat mengalami kerusakan berat saat Ambon diguncang gempa dasyat pada tahun 1754 sehingga menimbulkan kerusakan sangat parah. Karena kesulitan keuangan, renovasi benteng baru selesai akhir tahun 1780-an. Karena perbaikan dan perubahannya sangat banyak, maka sejak itu benteng yang merupakan cikal bakal Kota Ambon ini dinamakan Nieuw Victroria yang artinya kemenangan baru. Benteng Kota Laha, kemudian mengganti nama menjadi Benteng Victoria setelah Belanda sukses mendepak Portugis.

Menurut George Everardus Rumphius, Francois Valentijn dalam bukunya “Oud en Nieuw Oost-indien” maupun Imam Rijali dalam “Hikayat Tanah Hitu”, bahwa di kalangan penduduk Pulau Ambon, benteng tersebut lebih dikenal dengan sebutan “Benteng Kota Laha”.

Mungkin kita akan bertanya dimanakah letak keberadaan Laha? mengapa tidak dinamakan Benteng Kota Soya, atau Ema, Kilang, Silale dan Mardika dimana keberadaannya di atas Dati Soa-soa tersebut. Tidaklah mungkin suatu penamaan dengan menggunakan nama lain tanpa penyebab, tidaklah mungkin dinamakan jalan raja Laha tanpa penyebab, tidaklah mungkin dinamakan pisang Ambon tanpa sebab.

Mungkin dengan menelaah cerita rakyat yang turun temurun dari bibir ke bibir akan membuahkan jawaban. Namun apakah cerita-cerita rakyat tadi dapat dijadikan sebagai sumber sejarah? hal ini akan sangat dipertimbangkan kebenarannya. Tapi apa jadinya jika cerita rakyat terabaikan sebagai sumber sejarah, tentulah yang ada hanyalah sejarah-sejarahan, sehingga kebenaran yang ada yang terus mengalir dari bibir ke bibir hanyalah liur yang dianggap najis dan harus dihapuskan. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s