BERKELUH KESAH

BERKELUH KESAH

Mungkinkah manusia sama sekali tidak berkeluh kesah?Tidak mungkin, karena tidak ada hidup yang tanpa masalah dan tak ada kehidupan yang selalu berjalan sesuai keinginan. Masalahnya adalah kapan saatnya dan kepada siapa kita berkeluh kesah? Kita tidak boleh melampiaskan keluh kesah semaunya, jika kita sadar kedhaifan dan kelemahan  kita sendiri di hadapan Allah swt, kita pasti mengetahui bahwa Allah sajalah yang bisa menjadi tempat berkeluh kesah.

 

Berkeluh kesah kepada sesame manusia, apalagi mengeluarkan kalimat-lkalimat kutukan pada diri sendiri dan menyalahkan Allah swt, bukan hanya tidak menjadi jalan keluar bahkan menjauhkan Allah swt satu-satunya yang mampu memberi pertolongan kepada kita. Kita adalah manusia yang serba terbatas, serba kurang, serba tidak mampu. Rasa dhaif itulah yang mengantarkan kita untuk banyak bermunajat, mengadu, mengungkapkan keluh kesah kepada Allah swt dengan do’a.

Berkeluh kesah, satu wajah ekspresi yang sering mengiringi datangnya  beragam rintangan dan kesulitan. Bukan hal yang aneh, karena Allah swt telah menciptakan manusia dengan watak yang suka berkeluh kesah (QS.Al Ma’arij;19-20);”Menyesali nasib”. Keluh kesah adalah ungkapan kekecewaan. Bentuknya macam-macam. Bisa berupa keluarnya ungkapan kekesalan, menggerutu, kebencian, hingga caci maki, sumpah serapah bahkan kata-kata kotor yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan yang dikecewakan. Atau bisa juga berwujud kegundahan hati, kegelisahan dan semacamnya.

Ada beberapa ragam tingkah laku yang subtansinya bermakna keluh kesah, kenalilah!, boleh jadi kita temasuk orang-orang yang biasa berkeluh kesah, dengan problema sederhana yang semestinya tidak kita lakukan keluh kesah itu.

1. Merasa paling menderita

Setiap ujian, apapun bentuknya selalu saja meninggalkan goresan luka di hati. Luka-luka itu bisa membuat kita tidak sabar, selalu berkeluh kesah, menganggap bahwa Allah swt tidak adil, seperti hanya kita yang tertimpa musibah.. kadang kita hanya bisa mengukur kebahagiaan dari sisi materi dan kesuksesan dalam studi dan karir. Dunia terasa begitu sempit ketika kita belum mempunyai rumah sendiri, belum ada kendaraan, be;lum ada uang dan lain sebagainya, dunia terasa kejam saat studi dan karir kita selalu saja mendapat kegagalan. Semua itu memang penderitaan, tapi seharusnya tidak membuat dada kita sempit, menyiksa batin sendiri.

Cobalah kita tegakkan kepala sedikit saja, lalu tolehkan kea rah kanan dan kiri kita, perhatikan dengan seksama betapa banyak tetangga dan saudara-saudara kita yang lain yang penderitaannya jauh lebih berat. Kita jangan hanya pandai meratapi nasib, gampang meneteskan air mata, mudah mengeluarkan rintihan, tapi kita tidak jeli melihat penderitaan orang lain, tidak pandai berkaca pada kesabaran mereka apalagi berusaha untuk mengubah dan memeprbaiki keadaan sulit itu.

Rasulullah mengajarkan kepada kita dalam sabdanya; “Lihatlah orang (yang penderitaanya) berada di bawah mu, jangan kamu melihat orang yang ada di atasmu karena hal itu akan mencegah dari prilaku menghinakan nikmat Allah”.(HR.Muslim). sikap merasa paling menderita pada akhirnya akan menjadikan kita seperti orang yang tidak pernah puas dengan apa yang ia peroleh bahkan tidak pernah sempat berhenti barang sejenak pun untuk menikmati kebahagiaan-kebahagiaan yang Allah berikan.

2. Tidak mau melakukan perubahan dan tidak berusaha mencari jalan keluar

Ada orang yang mendapat cobaan, tetapi ia seperti “menikamti” cobaan itu dengan segala penderitaannya. Pasrah dengan keadaan, sepertinya enggan menggerakkan kakinya agar dapat bergeser dan beranjak dari kesulitan yang telah lama menimpanya. Ini tentu saja sikap yang tidak baik dan merupakan ekspresi keluh kesah dalam bentuk lain.

Setiap masalh pasti ada akhirnya, pasti ada jalan keluarnya dan pasti ada kemampuan untuk mengakhirinya, karena Allah swt tidak memberikan cobaan di luar kemampuan kita. Apalagi menurut Al-quran, penderitaan yang kita derita adalah hasil kreasi tangan kita sendiri. Allah swt berfirman: “ Dan apa saja bencana yang menimpamu maka dari kesalahanmu sendiri” (QS.An nisaa; 79). Ayat ini mengisyaratkan kita untuk tidak berlama-lama berada dalam kesedihan dan musibah.

Kondisi yang buruk harus diubah, dan perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri, itulah sunnatullah yang tidak bisa diubah. Kita tidak mungkin duduk berpangku tangan menunggu keajaiban turun dari langit, bertafakkur dengan doa-doa yang tidak berujung yang tidak diiringi dengan kerja nyata. Umar bin khatthab  pernah singgah di sebuah mesjid. Dia melihat seorang lelaki sedang berdoa dengan khusyu’, usai berdoa, Umar ra menghampirinya dan bertanya, “ Apa yang sedang anda lakukan?”, “Memohon kepada Allah” ujar lelaki itu, “memohon apa?” Tanya Umar, “Memohon rezeki” jawabnya singkat. Mendengar jawaban laki-laki itu Umar bangkit dan berkata, “ Sesungguhnya langit tidak akan menghujani emas, tidak juga perak”.

3. Selalu yakin akan gagal, hingga kerja tidak maksimal

Kunci sebuah kesuksesan adalah memiliki tekad yang kuat yang disertai dengan tindakan. Tekad kuat ini bermuara pada niat yang tulus dan suci. Setiap masalah harus diselesaikan, berusaha dengan kerja keras dan penuh kesungguhan adalah jalan yang paling tepat untuk keluar dari masalah. Kemiskinan harus dienyahkan dengan kerja keras. Kegagalan harus diubah menjadi keberhasilan  dengan terus mencoba dan mencoba, bukan dengan hidup bersantai.

Selalu yakin akan gagal adalah sikap pesimis yang teramat berlebihan. Menurut Rasulullah saw, “Pesimis adalah prilaku yang buruk (HR.Ahmad) Beliau juga pernah bersabda “Tidak ada ramalan buruk (Thiyarah), yang terbaik adalah optimisme (fa’l) yaitu perkataan yang baik”(HR.Bukhari).

4. Sering “Murka” pada orang lain karena merasa orang lain lebih beruntung dari dirinya

Kemana saja kaki kita melangkah selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih kaya dan lebih bahagia dari kita. Inilah realitas kehidupan. Allah swt telah menciptakan kita dengan kemampuan dan keunggulan yang berbeda. Tidak ada manusia super, serba bisa, tanpa cacat dan kesalahan. Kita punya kelebihan karena orang lain memiliki kekurangan, begitu pula sebaliknya, kekurangan kita adalah kelebihan orang lain. Di sinilah letak keadilan Allah swt agar kita pandai bersyukur dan berterima kasih  atas kelebihan yang Dia berikan dan bisa bersabar dan menerima kekurangan kita.

Sangat keliru jika kita cenderung membandingkan diri kita dengan orang lain, sibuk memikirkan kesuksesan teman, sementara kita melupakan diri sendiri. Cobalah sejenak kita renungkan keberhasilan  yang pernah kita raih karena sekecil apapun keberhasilan itu, sudah sepatutnya disyukuri. Jadikan kecemburuan kita sebagai hal yang positif yaitu sebagai pemicu untuk meraih sukses kita sendiri bukan malah meracuni hidup kita dengan prilaku hasud dan dengki.

5. Tidak pandai bersyukur

Kepada Allah seringkali kita tidak pandai bersyukur. Dengan tragis kita kehilangan cinta, cinta kepada Allah, cinta yang membangkitkan gairah hidup, cinta yang mengenalkan kita kepada arti sebuah anugerah dan pemberian.

Seharusnya kita bertanya pada lubuk hati kita yang paling dalam. Bukankah Nyawa yang Allah pinjamkan terlalu mahal nilainya?sampai-sampai orang berani emlakukan apa saja asalkan dia dapat bertahan hidup. Ketika seorang sedang tertimpa cobaan, lalu dengan lancangnya ia berusaha mengakhiri hidupnya agar dapat terbebas dari cobaan itu, maka itulah salah satu dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah swt.

Jundub Al Bajli meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah saw, beliau bersabda, “Ada seorang laki-laki sebelum kalian yang menderita sakit, karena ia tidak sabar menahan penyakitnya, kemudian ia memotong urat nadinya hingga mengalir darah terus menerus yang menyebabkan kematiannya. Kemudian Allah berfirman: Hambaku mempercepat kematiannya, maka haram baginya masuk surga”(HR.Bukhari).

Sebagai muslim yang beriman kepada Allah swt, di saat tertimpa cobaan dan kesusahan mestinya kita akan cepat teringat kepada pesan Al Quran “Sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS.Al Insyirah:6). Setelah kesempitan ada kelapangan. Kita jangan menyerupai bangsa Yahudi yang selalu berkeluh kesah menuntut tambahan nikmat di tengah limpahan karunia Allah. Melainkan senantiasa mensyukuri atas setiap nikmat yang telah Allah berikan dan jika kita mensyukurinya niscahya Allah akn menambah dan melapangkan nikmat.

Berkeluh kesah, apapun alasannya, apapun model dan bentuknya tidak dibenarkan, sebab keluh kesah tidaklah menyelesaikan masalah melainkan mendatangkan masalah yang lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s