HARUSKAH Rumah Makan, Cafe dan Bar ditutup pada bulan Ramadhan

HARUSKAH Rumah Makan, Cafe dan Bar ditutup pada bulan Ramadhan

 ”Al-Islaamu Huwal Hall”, islam adalah solusi, jika seorang muslim tidak mampu untuk shalat dalam keadaan berdiri, maka dibolehkannya duduk dan jika tidak juga mampu untuk duduk dibolehkannya berbaring atau sambil tiduran. Jika tidak mampu membayar kaffarah memerdekakan hamba, maka ia berpuasa dan bila tak mampu maka ia memberi makan fakir miskin. Dalam keadaan darurat, yang haram pun dibolehkan, seperti memakan babi secukupnya bila tak ada lagi makanan yang lain selainnya.

Sungguh suatu yang sangat menakjubkan, dimana islam senantiasa bijaksana dan toleran terhadap penganutnya, tidak heran jika orang-orang berbondong-bondong memeluknya dan sejarah telah mengukir akan keberhasilan dakwah Rasulullah saw dengan hikmah serta mau’idzhah hasanah bukan dengan pedang bukan dengan kekerasan menghakimi orang melainkan toleran dengan memberikan alternatif-alternatif lain yang dapat membangun keperibadian seseorang, menjadikannya sahabat bahkan cinta.

Kembali kita pertanyakan diri kita, Haruskah Rumah makan, Cafe dan Bar ditutup pada bulan Ramadhan?. Sebagian orang akan menjawab, sudah cukuplah selama sebelas bulan mencari nafkah, masa tidak bisa libur sebulan? kalau bisnisman mungkin saja, tapi bagaimana jika pengusaha kecil yang pas-pasan kredit di bank sehingga ia harus kejar target untuk membayar bunga bank, atau pedagang yang pas-pasan hidupnya yang tak bisa menabung banyak sedangkan kebutuhan semakin menumpuk, menabung mempersiapkan segalanya untuk lebaran, atau mungkin sebagian orang akan menjawab, ngapain usaha atau kerja yang demikian? padahal mereka sendiri tidak pernah berfikir susahnya menjadi pegawai negeri, tentara dan lainnya yang harus sogok sana sini, sekarang hidup enak terima gaji bulanan mulai berkoar.

Dimana-mana terdengar pengumuman, baik di TV maupun Radio dan selebaran, baik oleh pihak pemerintah maupun lembaga tentang penutupan atau pembatasan jam buka dan cara buka untuk rumah makan, cafe dan bar juga tempat maksiat, sedangkan tidak pernah diberikan solusi atau alternatif usaha lain yang bersifat temporary selama bulan Ramadhan. Kayaknya selama ini programnya saja yang kelihatan baik padahal tiada upaya yang dapat menunjang program, misalnya program wajib belajar dengan menggratiskan uang sekolah namun di satu sisi harga buku-buku semakin mencekik.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang suci dan dimuliakan oleh kaum muslimin, sepantasnyalah dan seharusnya tempat-tempat semacam itu ditutup, dengan catatan haruslah memperhatikan alternatif lain atau solusinya, bukan sekedar mengeluarkan larangan saja, terlebih lagi di Indonesia yang tidaklah semua penduduknya beragama islam, dan tujuan mereka membuka toko bisa saja mengharapkan konsumen dari non muslim maupun yang muslim yang kebetulan musafir atau sakit dan uzur lainnya.

Suatu saat seorang penanya melontarkan pertanyaan kepada Syekh Ali Jumah (mufti Mesir), bagaimanakah hukum menjual pakaian dalam wanita yang dipajang di depan toko, jawab beliau boleh-boleh saja, lanjut si penanya bertanya, bukankah itu mengganggu fikiran orang-orang yang lewat, jawab beliau, kalian saja yang otaknya terlalu kotor (negatif thinking), orang menjual yang demikian, mata kalian melihat tapi otak sudah melampaui dalamnya pakaian dalam, alasan beliau karena hukumnya bukan pada zat barang melainkan pada penggunaannya, jika pakaian dalam tersebut dibeli dengan tujuan pamerkan aurat kepada orang lain berarti haram, namun jika untuk suaminya maka dibolehkan. Senada dengan masalah ini, jika yang mereka jual adalah barang yang tidak haram, apa salahnya. Yang salah  yaitu mengapa tidak berpuasa.

Jika kita bicara soal menghargai maka semua orang maunya dihargai padahal belum tentu mereka menghargai yang lain, hal ini disebabkan karena ke-egoan masing-masing ataupun ta’asshub yang berlebihan. orang yang berpuasa di bulan Ramadhan maunya dihargai, tapi pernahkah mereka menghargai yang tidak berpuasa? senyum sinis terpancar dari wajah mereka bahkan olokan terhadap yang tidak berpuasa. Suatu saat sahabat Rasulullah saw yaitu Abu darda’ sedang lewat di pasar, kemudian beliau melihat kerumunan orang lantas menghampirinya dan bertanya, ada apa? jawab orang-orang bahwa si fulan ini telah mencuri dan dipukul oleh banyak orang, jawab beliau dengan bijak; jika ada salah seorang saudaramu jatuh ke dalam sumur maka apa yang akan kalian lakukan, mereka menjawab; pasti kami akan ramai-ramai menolong mengangkatnya keluar dari sumur., kemudian beliau melanjutkan perkataannya; hari ini sahabat kalian jatuh ke dalam sumur bukannya ditolong malah kalian semua ikut-ikutan terjun ke dalam sumur.

Ada alasan lain, yaitu karena pemandangan tersebut akan mengganggu orang yang sedang berpuasa. Hal ini kiranya dikembalikan ke pepatah lama yaitu semakin tinggi pohon semakin deras angin menerpanya, semakin banyak seseorang menghadapai masalah dan menyelesaikannya maka ia semakin dewasa, semakin  tinggi keimanan seseorang semakin banyak cobaan dan godaan yang akan dihadapinya. Jika alasan ini diterima maka keislaman dan keimanannya sebatas bibir dan KTP saja. Iman tidak akan berkembang bila lari dari cobaan karena semakin banyak cobaan dan godaan yang dihadapinya mampu lepas darinya maka semakin tebal keimanannya, kok kita malah lari ingin menjadikan iman kian hari menipis dan kekanak-kanakan. Jika mengaku beriman maka bersiaplah menghadapi cobaan.

Tidak heran jika Syekh Sya’rawi dalam buku tafsirnya mengatakan bahwa jika ingin menjadi seorang sufi maka tinggallah di pasar dan janganlah zuhud (bertapa mengasingkan diri dari dunia) karena cobaan di saat zuhud tidaklah sebanding dengan hidup di pasar. Jadikanlah semuanya sebagai lahan untuk menguji keimanan kita sebagai seorang muslim di bulan ramadhan jika tidak ditutup tempat-tempat hiburan tersebut, dan jika tempat-tempat tersebut ditutup maka hendaklah memikirkan solusinya baik terhadap yang berdagang maupun terhadap para konsumen.wallaahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s