SEJARAH SINGKAT NEGERI LAHA

SEJARAH SINGKAT NEGERI LAHA

Laha adalah sebuah negeri yang terletak di pulau Ambon, tepatnya terletak di ujung teluk pulau Ambon yang dibatasi oleh tanjung Alang dan tanjung Nusaniwe. Negeri Laha pada mulanya bernama Toisapua Sopaini yang kemudian berganti menjadi Toisapua Sopaini Yamano Nusa Laha, bermarkas di atas puncak gunung Sakula yaitu Negeri Tua, dimana para Kapitan dan Tua-tua adat negeri ini bermukim yang ditandai dengan sebuah batu prasasti yang sakral “HATU MA’ATUNU KAMAR KULA UTE SAMPIRANG “, yaitu batu prasasti dimana mereka berkumpul untuk bermusyawarah dalam segala hal yang berkaitan dengan Negeri mereka.Cakalele adat hu’ur nitu sakula mengawal Raja tuan tanah adat beserta Kapitan-kapitan dan tua-tua adat dari soa Hehuat turun dari negeri Tua berbondong-bondong menuju pantai dan mulai bermukim di sana.

 

Keberadaan dan kondisi penduduk setempat masihlah primitif yang berfahamkan animisme, hingga muncullah seorang penyiar agama islam di Maluku, Sultan Chairun Djamil yang berasal dari Ternate untuk membebaskan mereka dari keterbelakangan, mencoba memadukan budaya islam dengan adat istiadat  setempat. Bersama khaddamnya (pembantu) kemudian berlabuhlah perahu mereka yang disebut dengan Sope-Sope di tepi pantai negeri Toisapu Sopaini ini, letak negeri ini sangatlah strategis di mata Sultan Khairun Jamil, hingga ia melontarkan ucapan: “Taha-taha Belo Joua Laha suange”, yang artinya; Tanamlah tokang (gala), di sini pelabuhan yang bagus. Dari sinilah nama Negeri ini berasal dan sejak itu pun berubah menjadi LAHA yang berarti BAGUS, tepatnya pada tahun 1314 M (Berdasarkan Register Dati). 

 

Dengan kedatangan Sultan Khairun Jamil, telah membahawa banyak perubahan di Negeri ini, masyarakat telah berpikir untuk berusaha dan maju, sebagai nelayan yang mahir membuat perahu dan menangkap ikan juga cara pemasarannya melalui barter dengan negeri lain, hingga negeri ini menjadi ramai dan tempat berkumpul sebagaian penduduk dari negeri lain. Beliau juga telah menaruh batu pertama sebuah mesjid di Laha dengan ukuran kubah 4x4m dan mesjid tersebut dinamakan Mesjid Jame Sultan Chairun Djamil sebagai penghormatan dan untuk  mengenang jasa-jasanya, hingga kini mesjid itu telah mengalami beberapa kali pemugaran. Konon kabarnya kuburan beliau berada di antara Ternate dan Tidore, padahal sebenarnya adalah keburan beliau berada di belakang mesjid Laha.

 

Negeri ini adalah negeri yang sangat berpegang pada adat leleuhur mereka, mempunyai bahasa tersendiri dan terdiri dari beberapa soa serta tanah Ulayat Negeri Laha. Telah mengalami perubahan dari nama negeri Laha menjadi desa Laha dan kini kembali menjadi negeri Laha. Luas wilayahnya pun telah berkurang setelah pemekaran kotamadya Ambon, dimana desa Tawiri yang dulunya merupakan salah satu dusun dari Negeri Laha kini telah menjadi desa yang otonom.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s