PEMBUKAAN LAPANGAN TERBANG LAHA

PEMBUKAAN LAPANGAN TERBANG LAHA

Dari informasi-informasi yang diterima (hasil wawancara) dengan para tetua adat di desa Laha, pada saat itu dikirim beberapa tim survey atau ekspedisi untuk melihat daerah-daerah di pulau Ambon dalam rangka pembukaan lapangan terbang, hasil-hasil survey atau penelitian itu setelah dipelajari dan dianalisa, maka ditentukanlah dua tempat yaitu desa Poka/Rumah tiga dan desa Laha.

Atas beberapa pertimbangan dengan memperhitungkan perluasan kota Ambon di kemudian hari dan perkembangan perlabuhan/dermaga yang dipergunakan sebagai tempat pendistribusian bahan bakar maka lokasi di desa Poka/rumah tiga dibatalkan dan ditetapkanlah desa Laha untuk pembuatan lapangan terbang.

Untuk merealisasikan konsep ini, pada tahun 1930 bulan April, Pemerintah Hindia Belanda dalam hal ini Koning Klaike Nederland Indie Leger (KNIL) bagian zeni menugaskan ajudan Olivir dan pembantunya tuan Bariel dan sersan Tahalea untuk merintis pembuatan lapangan terbang di desa Laha, lapangan terbang tersebut dibuat run way sepanjang 800-900 m dengan lebar 50 m dalam kondisi run way yang sangat sederhana. Pada awal pembuatannya, run way dibuat dengan menggunakan plat-plat besi baja karena pada saat itu kondisi tanah yang digunakan kurang baik (gembur), sehingga untuk dapat digunakan sebagai landasan bagi pesawat terbang harus dilapisi dengan plat-palt baja di atasnya.

Pemerintah Hindia Belanda dalam pembuatan lapangan terbang ini telah membayar ganti rugi tanah sebanyak 800 gulden kepada pemerintah desa Laha. Sebagai tapal batas dari daerah yang dibeli untuk pembuatan lapangan terbang ini dipancangkan beberapa buah pal batu yang terbuat dari semen berbentuk segi empat dengan lebar 50 cm dan tingginya kira-kira 1,20cm. Pal-pal itu akan menjadi tanda bahwa areal itu sudah dimiliki oleh pemerintah Hindia Belanda. Awalnya pal-pal itu digunakan sebagai tanmda oleh pihak Belanda untuk membangun fasilitas guna mendukung operasional lapangan terbang. Pal-pal itu hingga kini masih ada dan terlihat, ada juga yang telah rusak akibat adanya erosi air hujan atau tuntutan pembangunan di masa kini.

Hasil kerja dari misi Olivir berjalan dari tahun ke tahun, sehingga pada tahun 1935 misi ini dapat menyelesaikan tugasnya membangun lapangan terbang di desa Laha. Menurut keterangan yang dikumpulkan dan informasi-informasi yang diterima dari tetua adat di desa Laha bahwa pembuatan lapangan terbang tersebut dikerjakan selama kurang lebih delapan bulan lamanya dan selesai bulan agustus 1935.

Selama 350 tahun Belanda berkuasa di Indonesia, tanggal dan bulan yang sangat diagung-agungkan adalah tanggal 31 Agustus. Tanggal dan bulan ini merupakan hari bersejarah bagi semua daerah jajahan Belanda karena merupakan hari lahirnya ratu Wilhelmina (penguasa kerajaan Oranje). Dengan dasar itulah maka lapangan terbang yang dibangun tersebut diresmikan pemakaiannya pada tanggal 31 Agustus 1935. Sedangkan untuk penyebutan lapangan terbangnya sendiri menggunakan sebutan LAPANGAN TERBANG LAHA dengan mengambil daerah / tempat dibangunnya lapangan terbang tersebut.

 

Menurut keterangan dari hasil wawancara yang dikumpulkan, setelah selesai lapangan terbang ini dikerjakan, maka pesawat-pesawat jenis kecil didaratkan seperti pesawat Glen Marthin dan beberapa pesawat sejenis Dakota. Keberadaan lapangan terbang Laha ini sangat menguntungkan pihak pemerintah HGindia Belanda terutama yang berada di wilayah Maluku karena sangat membantu baik dalam hal dukungan logistik, mobilisasi pasukan ke daerah lain di Indonesia maupun pengiriman hasil rempah-rempah yang banyak dihasilkan di pulau Ambon ini.

Pada tahun 1942, pasukan Jepang mendarat di Maluku yang didahului dengan pendaratan beratus-ratus bom yang telah dijatuhkan oleh pesawat tempur mereka, kemudian disusu dengan tembakan ke tempat-tempat yang dianggap vital. Pengeboman yang dilakukan itu tidak langsung dijatuhkan ke lapangan terbang Laha, tetapi diarahkan ke tengah desa Laha dan obyek vital di sekitar lapangan terbang itu, hal ini dilakukan dengan pertimbangan agar Jepag masih dapat memanfaatkan lapangan terbang ini nantinya.

Setelah lapangan terbang Laha dikuasai oleh Jepang, maka pembangunan segera dilakukan untuk memperbaiki sarana dan prasarana lapangan terbang Laha yang banyak mengalami kerusakan akibat pengeboman yang mereka lakukan. Jepang mulai membangun Apron darurat serta pelbok sebagai tempat persembunyian pesawat mereka, pembuatan ini dimulai dari sebelah timur lapangan membujur ke pantai arah barat di desa Laha. Tempat penyimpanan pesawat ini masih ada sampai sekarang dan ada beberapa yang telah rusak atau dibongkar karena tuntutan pembangunan.Mereka juga memperpanjang Run Way untuk keperluan pendaratan pesawat-pesawat mereka, semula yang panjangnya kurang lebih 800-900 meter menjadi 950.

Kekalahan Jepang atas Sekutu pada tahun 1945 membawa perubahan politik untuk kesekian kalinya di Indonesia. Lapangan terbang Laha kembali dikuasai oleh Belanda dan diduduki oleh tentara KNIL dan ML (Militaire Luchttvaart). Setelah pemerintah Hindia Belanda kembali menguasai lapangan terbang Laha untuk kedua kalinya, maka Belanda menugaskan Erste Luitenan Titaley sebagai komandan lapangan terbang Laha.

Selama Belanda menguasai Lapangan Terbang Laha tidak pernah terjadi perubahan nama lapangan terbang tersebut, demikian juga pada saat dikuasai oleh Jepang. Nama Laha tetap dipakai untuk nama dari Lapangan terbang ini.

Sejalan dengan perkembangan di Negara Indonesia khususnya di Ambon. DPRD sebagai lembaga legislative di daerah memandang perlu agar nama lapangan terbang Laha ditinjau kembali. DPRD menyetujui nama Lapangan Terbang Laha diganti menjadi Lapangan terbang Pattimura sebagai wujud penghargaan atas perjuangan pahlawan Pattimura  dalam membela daerah Maluku dari penjajahan, rencana perubahan nama ini direkomendasikan kepada Gubernur Maluku untuk menyampaikan perubahan nama ini kepada Pemerintah Pusat di Jakarta. Pada tanggal 18 November 1955, secara resmi disetujui nama Pangkalan Udara Pattimura, dan untuk Departemen Perhubungan (penerbangan sipil) disebutnya Pelabuhan Udara Pattimura.

 

2 thoughts on “PEMBUKAAN LAPANGAN TERBANG LAHA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s